Raih IKD Tertinggi Di Jawa Tenggah, Tunjukan Pemkab Klaten Siap hadapi Bencana
BrantaS.Co.id – Sejumlah catatan membanggakan diraih Kabupaten Klaten. Indeks Ketahanan Daerah (IKD) Kabupaten Klaten pada tahun 2025 mencapai nilai atau skor 0,94 yang merupakan tertinggi di Provinsi Jawa Tengah.
Pernyataan ini disampaikan Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten Syahruna di Kantor BPBD Klaten belum lama ini.
“Indeks Ketahanan Daerah (IKD) adalah alat ukur komposit yang digunakan untuk menilai kapasitas pemerintah daerah (provinsi/kabupaten/kota) dalam mengelola risiko bencana, mencakup kemampuan mitigasi, adaptasi, meminimalkan dampak, serta pulih pascabencana. IKD menjadi komponen krusial dalam menyusun Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) untuk menciptakan daerah yang tangguh,” katanya.
Syahruna menyatakan, Indeks Ketahanan Daerah (IKD) Kabupaten Klaten yang mencapai angka 0,94 (skala 0-1) ini menjadikannya tertinggi di Jawa Tengah. Nilai tinggi ini menunjukkan kesiapsiagaan dan kemampuan Pemkab Klaten yang sangat baik dalam menghadapi ancaman bencana, mencakup aspek ekonomi, sosial, infrastruktur, dan pengurangan risiko bencana.
“Indeks Ketahanan Daerah ini mengukur kapasitas daerah dalam perencanaan, sistem, informasi, edukasi, dan kelembagaan penanggulangan bencana. Angka ini menegaskan komitmen Kabupaten Klaten dalam meningkatkan kapasitas penanggulangan bencana di tingkat daerah,” ujarnya.
Syahruna mengungkapkan, untuk Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) Kabupaten Klaten pada tahun 2025 mencapai angka atau skor 74,28.
“Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) adalah perangkat analisis dan alat ukur berbasis data yang dikelola BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk memetakan tingkat risiko bencana (bahaya, kerentanan, dan kapasitas) di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. IRBI menjadi acuan strategis dalam perencanaan pembangunan dan evaluasi kinerja pengurangan risiko bencana (PRB) di Indonesia,” ujar Syahruna.
Syahruna menjelaskan, selama ini, Kabupaten Klaten dikenal sebagai daerah rawan bencana seperti gempa bumi, aktivitas gunung berapi, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, badai, dan banjir.
“Klaten hanya bebas dari bencana tsunami, karena daerahnya yang tidak mempunyai pantai,” tandasnya.
Syahruna mengemukakan, untuk penanggulangan bencana, maka BPBD Klaten melakukan dua langkah besar sesuai regulasi yang ada, yaitu meningkatkan kapasitas dan mengurangi kerentanan.
Untuk peningkatan sumber daya manusia (SDM) penanggulan bencana di tingkat kecamatan telah dibentuk kecamatan tangguh bencana, desa tangguh bencana, satuan pendidikan aman bencana (SPAB), dan sebagainya.
Ia menambahkan, pada tahun 2025 lalu, BPBD Klaten meraih prestasi yang membanggakan, yaitu Penghargaan Subroto untuk Kategori Manajemen Mitigasi Bencana Geologi.
Penghargaan Subroto merupakan apresiasi tertinggi Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) kepada pelaku di sektor energi dan sumber daya mineral atas inovasi serta kontribusi dalam mendukung transisi energi, efisiensi energi, keselamatan kerja, dan pemberdayaan masyarakat.
“Penghargaan ini tentu saja menggembirakan bagi kami,” ucap Syahruna.
Sementara itu, Pj Sekda Klaten Jaka Purwanto mengemukakan, Indeks Ketahanan Daerah menunjukkan satu kemampuan daerah serta kapasitas daerah menghadapi ancaman bencana. Mulai dari perencanaan, sistem, informasi, edukasi kelembagaan sampai pelaksanaannya.
“Indeks-nya 0 sampai 1, dan Kabupaten Klaten kategori tinggi. Artinya, Pemkab Klaten ini, kesiapsiagaan dan kemampuannya dalam menghadapi bencana itu tinggi sekali,” jelasnya.
Jaka Purwanto mengatakan, sedang Indeks Risiko Bencana adalah satu kondisi potensi bencana yang ada di Klaten, seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, Gunung Merapi, dan sebagainya. Kemungkinan-kemungkinan potensi bencana itu kemudian dimitigasi.
“Mudah-mudahan kita dapat mempertahankan (IDK) ini. Alhamdulillah, Klaten sudah membentuk kecamatan tanggap bencana (Kencana) kategori Pratama,” ucap Pj Sekda Klaten.
